Biak, Papua 2008. Di pulau ini pernah terjadi bencana tsunami pada tahun 1996. Namun tidak ada berita yang begitu menggeparkan, Bisa dibayangkan, Bencana Tsunami di pulau terpencil pada saat koneksiinternet belum seperti ketika aceh dilanda tsunami. Media televisi juga masih terbatas. Di pulau ini juga masih tersisa peninggalan perang dunia kedua. Beberapa diantaranya gua perlindungan tentara jepang yang hancur dibombardir tentara sekutu. Di salah satu tempat masih tersisa kotak dan peti peninggalan tentara jepang yang tewas dalam serbuan tersebut. Pengunjung asal jepang banyak yang meninggalkan tanda penghormatan mereka di tempat ini.
Pada zaman penguasaan Belanda, Biak adalah salah satu wilayah pendidikan. Sekolah asrama bagi para penduduk yang tinggal dari luar pulau merupakan bukti. Sistem sekolah asrama memang efektif untuk wilayah-wilayah yang penduduknya menyebar, terutama wilayah kepulauan. Sistem ini juga diterapkan oleh berbagai negara. Anehnya setelah puluhan tahun merdeka, gagasan untuk menerapkan kembali sistem sekolah asrama ini lebih banyak mengisi bursa gagasan di pertemuan-pertemuan yang membicarakan bagaimana menyelesaikan maslah pendidikan di papua. Meskipun setiap tahun dana Otonomi Khusus yang jumlahnya berlimpah telah dikucurkan oleh pemerintah pusat.
Anak-anak di Biak, memiliki hak yang sama dengan anak-anak di belahan lain negeri ini. Hak untuk mendapatkan pelayanan pendidikan sebagaimana yang diperoleh oleh saudara-saudara mereka di pulau-pulau nusantara lainnya…
The Godfather
Salahudin


Leave a comment